About US

Hikari Montessori established in 2005 is a Montessori Preschool &

kindergarten and also supplier of quality Montessori and educational

materials. We provide quality education to children aged 1 to 6 years

of age. Our Montessori Curriculum method divide into some part.

From concrete to abstract. From the simple way to complex.


Hikari Montessori is supported by professional and experts teachers.

Hikari Montessori school came to develop creativity and potential,

also build your children character.

Programs

Hikari Montessori has a program that offers

+ Toddler (1-2 years),

+ Nursery (2 - 3 years),

+ Pre – Kiddy ( 3 years ),

+ Kindergarten A ( 4 - 5 years ),

+ Kindergarten B ( 5 – 6 years )

Hikari Montessori gives the children freedom to study actively with Montessori

method.


Curriculum

Hikari Montessori Curriculum :

• Practical Life

• Mathematics

• Sensorial Training

• Language

• Culture

• Art & Music

• Physical Exercise

• Religion (Moslem&Christian)

Kamis, 11 Agustus 2011

LUKA ITU MENGUATKAN

LUKA ITU MENGUATKAN

Jangan biarkan luka Anda semakin lebar dengan keluhan dan ketakutan. Tetapi buatlah luka itu semakin membuat Anda kebal dan kuat dengan membalikkkan sudut pandang Anda. Ketakutan menjadi senjata, keluhan menjadi kekuatan.

(arahman_sh, yogya, 12 agustus 2011)

Tips Mendekati Anak dan Mengembangkan Kecerdasannya

Tips Mendekati Anak dan Mengembangkan
Kecerdasannya*
Abdul Rahman Shaleh

Berikut ini merupakan beberapa tips membangun komunikasi yang sehat antara orang tua.
  1. Ketika Anda sedang menidurkan anak,berbicaralah dengan sepenuh hati dan dewasa. Tunjukkan bahwa Anda mencintai dan menyayanginya sepenuh hati sembari berdoa dalam hati bahwa ia merupakan anak shaleh, baik hati, kuat, dan cerdas. Saat ia sedang relaks dan berada dalam kondisi hampir tertidur, bisikkan kalimat-kalimat positif yang membangun jiwanya. Bila perlu beri sentuhan,elusan, dan dekapan sepenuh hati agar ia semakin nyaman.
  2. Gunakan kartu bermain yang penuh warna dan bermainlah bersamanya. Misalnya kartu huruf dan angka. Bila perlu Anda dapat membuat mainan kartu tersebut bersamanya.
  3. Sekali waktu ajak ia bermain origami, menanam bersama, dan bahkan biarkan ia bekerja bersama Anda di air, bangunan tanah, menggambar, atau permainan lain yang membuatnya bergerak.
  4. Mendongeng dan bermain teka-tekilah bersamanya dan biarkan imajinasinya berkembang. Lain waktu Anda dapat bercerita dan memberi teka-teki pada Anda dan pura-puralah berpikir keras untuk menebak jawabannya.
  5. Jangan marah dan berbicara keras. Jika ini terlanjur, minta maaflah.
*Diramu dari berbagai sumber

Tips Menghadapi Campur Tangan Nenek*

Tips Menghadapi Campur Tangan Nenek*

Libatkan Suami/Isteri Anda. Demi kebaikan semua pihak, sebaiknya ia tak perlu tahu semuanya. Duduklah bersama suami/istri Anda dan diskusikan apa yang sebaiknya dirahasiakan dari Ibu/Ayah/Mertua Anda, seperti hal yang menyangkut uang, anak-anak dan kesehatan. Semakin banyak informasi yang diketahui Ibu/Ayah/Mertua, semakin gencar ia memberi opini, saran bahkan kritik.

Sepakati Jadwal Kunjungan. Bangun kebiasaan agar saat Anda berkunjung ke rumah Ibu/Ayah/Mertua atau sebaliknya untuk selalu dengan pemberitahuan. Hindari kunjungan dadakan agar ada persiapan.

Positiflah. Ibu/Ayah/Mertua seringkali berpikir apakah anaknya bisa menjadi orangtua yang baik cucu mereka. Bahkan pada taraf tertentu, mereka menguji dan menekan Anda. “Respon terbaik adalah tidak memeberikan respon sama sekali”, ujar Nina W. Brown. Respon negatif hanya akan memicu perseteruan. Tenangkan diri Anda dan tetaplah tersenyum

Jelaskan Maksud Anda. Cobalah jelaskan maksud Anda pada bagian dimana Ibu/Ayah/Mertua memberikan kritik pada Anda, dan minta agar mereka tidak menghakimi Anda, tetapi membantu Anda untuk meyakinkan si anak. Seringkali Ibu/Ayah/Mertua ingin menjadi bagian dari tim pendidikan cucu mereka, dan bila Anda membuat dia merasa berguna. Pada tahap ini biarkan ada campur tangan (sedikit). Mintalah sekali-sekali saran dari mereka.

*Diramu dari berbagai sumber

Sabtu, 06 Agustus 2011

Kesulitan yang Menguatkan

Anak perlu diajarkan tentang kesulitan hidup, melalui pola tarik ulur pengasuhan atau filosof mulur mungkret. Sebab seorang yang belajar tentang kesulitan justru akan semakin kuatdan berdaya dalam menghadapi hidup. Hanya saja yang paling penting dalam hal ini bukanlak kesulitannya, tetapi bagaimana anak dibantu untuk belajar memaknai setiap kesulitan atau peristiwa yang dihadapinya secara positif.

POSITIF-NEGATIF PENGASUHAN NENEK

Pengasuhan yang dilakukan kakek-nenek sering dianggap sebagai ‘kesempatan kedua untuk menjadi orangtua’ bagi kakek-nenek. Tidak heran banyak kakek-nenek yang ingin terlibat aktif/penuh dalam pengasuhan cucu mereka. Ini bisa disebabkan selain karena keinginan untuk ikut serta bertanggung jawab dalam pengasuhan, tidak jarang dipandang sebagai upaya untuk ‘menebus dosa’ atas “kekeliruan” yang dulu dialami ketika membesarkan anak mereka sendiri.

Keterlibatan kakek-nenek dalam pengasuhan anak tidak akan menjadi masalah jika orangtua sepaham dengan kakek-nenek tentang bagaimana cara mengasuh anak. Namun jika berbeda, timbul berbagai masalah, bahkan beberapa pasangan sering bertengkar karena beda paham tentang seberapa jauh orangtua mereka (kakek-nenek) bisa mengasuh anak. Atau bahkan menjadi momok yang menekan pada orangtua karena terus menjadi pusat “serangan” kakek-nenek”. Hal ini banyak dikarenakan kurangnya komunikasi orangtua-kakek/nenek mengenai bagaimana pola mendidik yang ‘baru’ sesuai dengan zaman hidup anak. Biasanya kakek-nenek terlalu memanjakan si anak. Aturan yang sudah diterapkan oleh orangtua kepada anak-anaknya justru dilanggar kakek-neneknya. Hal ini dapat menimbulkan perselisihan pada beberapa pasangan. Perbedaan pola asuh ini berdampak pada kemandirian anak. Misalnya anak akan menjadi kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas hariannya seperti makan, mandi, atau kurang mandiri dalam menyelesaikan masalah.

Namun demikian ada juga sisi positifnya. Misalnya, tanpa nada menghakimi dan menyalahkan, kakek-nenek dapat berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengasuh anak, dan bahkan memberi contoh kepada orangtua, sehingga anak mendapatkan pengasuhan yang lebih baik seperti pengaturan menu makanan, atau si anak tidak melulu bergaul dengan pengasuhnya. Dalam komunikasi yang tepat, anak akan belaja meniru pengalaman positifnya dalam bergaul bersama kakek-nenek.

Tetapi perlu dicatat, jika penerapan pola pengasuhan tidak konsisten dikhawatirkan akan menyebabkan si anak memiliki kecenderungan negatif. Si anak akan membandingkan pola dan mencari perlindungan kakek-neneknya saat ia merasa tidak nyaman dengan orangtuanya. Akibatnya hubungan orangtua-anak menjadi buruk. Ini dapat menjadi pukulan bagi orangtua yang dapat berujung pada depresi. Selain itu kemampuan ekspresi emosi anak menjadi kurang tepat, karena bingung terhadap pola yang ada. Pada tahap ini, orangtua selayaknya memiliki keberanian untuk berbicara dengan kakek-nenek (orangtua atau mertua) mengenai pola yang tepat dalam mendidik anaknya.

Selasa, 28 Juni 2011

AGAR ANAK TIDAK EGOIS

AGAR ANAK TIDAK EGOIS
Abdul Rahman Shaleh

Anak-anak itu memang unik dengan polah tingkah yang dimilikinya. Pada umumnya anak dipengaruhi oleh sifat egosentrisme yang memang berkembang di usia mereka dan mulai berkembang saat ia mulai memiliki kesadaran akan keberadaan dirinya. Egosentrisme ini berkembang karena anak belum memiliki kemampuan ia belum mampu menempatkan dirinya dalam sudut pandang orang lain dan dalam situasi. Mereka hanya berpikir “saat ini dan di sini”. Akibatnya seringkali anak-anak memperlihatkan perilaku tidak suka disangkal, dibatasi, atau dilarang. Perilaku ini tak jarang mengakibatkan kejengkelan dan perlakuan keras orang tua terhadap anak. Semakin keras perilaku orang tua terhadap anak kemungkinan besar yang terjadi adalah serangan balasan terhadap orang tua dalam bentuk hambatan, pemberontakan, kebohongan, kemarahan dan kekesalan.

Sebaliknya, ketidaksenangan orangtua ditanggapi anak dengan kemarahan. Acapkali anak-anak tersinggung dan marah hanya disebabkan alasan-alasan sepele, karena mereka memang tidak mempunyai pribadi yang kuat. Oleh karena itu, perlu sikap yang bijak dalam mendidik anak agar proses menuju kemandiriannya tidak dicampuri oleh sifat egoisme yang salah kaprah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mendorong dan membiasakan perilaku yang positif, antara lain :

1.beri kenyamanan untuk tumbuh dengan menunjukkan sikap menerimanya dengan seluruh kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya agar ia juga dapat mengembangkan self acceptance, sembari menjelaskan dengan sabar dan lembut hal-hal penting menuju arah yang positif, termasuk bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi.

2.Beri kepercayaan pada anak atas potensinya melalui pengakuan yang tulus dan hangat (misalanya melalui pelukan) agar optimisme dan keyakinannya tumbuh.

3.Gunakan bahasa dan tutur kata yang halus. Teriakan dan kata-kata yang tidak tepat pada tempatnya secara tidak sadar dapat menjadikan anak tidak matang dalam proses perkembangannya. Pelan-pelan katakana padanya bahwa menangis, teriakan, dan hentakan kakinya tidak diperlukan bila ia menginginkan sesuatu yang baik dan mungkin untuk dipenuhi.
4.Beri tantangan tugas tertentu yang dapat memaju tanggung jawabnya terhadap kehidupannya.

Senin, 20 Juni 2011

Memanjakan Anak

Memanjakan Anak
Abdul Rahman Shaleh

Memang merupakan hal yang wajar ketika kita menyatakan bahwa kita sangat menyayangi akan buah hati kita. Ketika seorang ibu mengandung anaknya, biasanya memang ia akan merasakan adanya ikatan batin yang kuat antara dirinya dan anaknya. Dalam melayani anak, orangtua biasanya memainkan peranan pelayanan. Bahkan kebanyakan orangtua bersedia melayani anak-anak mereka tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Mungkin, itu adalah tugas orangtua atas dasar bahwa mereka dianggap tidak mampu melakukan sendiri, setidaknya sampai mereka tumbuh dan berkembang menjadi mampu, kompeten, dan individu-individu mandiri. Namun sayangnya banyak orangtua umumnya melakukan terlalu banyak untuk anak. Dalam melakukannya, kita berisiko merampas mereka kesempatan belajar yang penting untuk perkembangan dan pertumbuhan yang sehat. Dengan kata lain, orang tua menomorsatukan anak dalam hal pelayanan. Segala kebutuhan anak selalu dipenuhi bagaimana pun caranya. Kehadiran anak dijadikan mitos sebagai pembawa rezeki dan kebahagiaan dalam keluarga. Orangtua menaruh harapan-harapan kepada anak-anaknya agar mereka memberikan kebanggaan dan kebahagiaan. Orangtua yang terlalu berharap berlebihan kepada anaknya sesungguhnya justru membebani hidup anak itu sendiri. Sebab anak akan merasa terpasung dalam menentukan sikap sesuai dengan keinginannya yang sesuai dengan perkembangnnya.

Oleh karena itu, jika Anda terlalu memanjakan anak Anda secara berlebihan, berhati-hatilah, karena pada akhirnya anak Anda akan selalu menjadi pribadi yang manja dan berani seenaknya tanpa menaruh rasa hormat terhadap Anda. Seorang anak yang biasa dimanjakan secara berlebihan oleh orangtuanya biasanya akan menjadi anak yang nakal, karena orangtua yang terlalu memanjakan anaknya akan sering sekali memaklumi kesalahan anaknya yang pada akhirnya akan berakhir pada kelakuan sang anak yang semakin buruk, karena anak tersebut akan selalu merasa bahwa orangtuanya tidak akan pernah memarahinya sebesar apapun kesalahan yang ia lakukan. Mereka tahu bahwa orangtuanya tidak tega untuk mengatakan 'tidak'. Akibatnya, anak terbiasa tanpa kesulitan atau hambatan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Hal itu membuat pribadi mereka menjadi rapuh dan tidak tahan uji. Walaupun sebenarnya orang tua tahu bahwa hidup itu penuh ujian dan masalah tapi tetap saja memanjakan anak-anaknya secara berlebihan.

Ketika Anda tidak pernah menunjukkan kewibawaan sebagai orangtua dan membiarkan anak Anda berperilaku semaunya tanpa dididik dan ditegur ketika ia melakukan kesalahan, anak Anda tidak akan ragu untuk berperilaku seenaknya didepan Anda dan juga menjadi pribadi yang angkuh serta tidak tahu menghargai orang lain karena telah dibiasakan hidup bebas tanpa pernah mengetahui adanya didikan dan cara berperilaku serta bertata krama yang baik. Anak Anda akan menjadi pribadi yang “caper” atau cari perhatian dengan cara-cara yang tidak wajar karena biasa dimanjakan dengan berbagai hal tanpa pernah dididik secara benar. Padahal keterampilan dalam menghadapi masalah dan ujian itulah yang sebenarnya perlu ditanamkan kepada anak sejak mereka masih kecil. Agar kelak mereka mampu menghadapi masalah dan ujian yang lebih besar lagi.
Oleh karenanya, orangtua perlu menyadari bahwa kasih saying yang diberikan mestilah dilakukan dengan cara yang tepat. Mendidik anak seperti bermain layang-layang. Saat angin tidak berhembus, Anda mesti menariknya agar ia melayang-layang. Sebaliknya saat angin sedang kencang Anda mengulurnya dan membiarkannya dimainkan angina. Sedang saat anginnya terasa cukup, mainkanlah, ia agar layag-layang bergerak indah di angkasa. Begitu juga mendidik anak, saat ia kekurangan motivasi, dorong dan bila perlu lecut semangatnya agar tergerak. Yakinkan bahwa ia memiliki potensi yang luar biasa. Ketika semangatnya dirasa cukup untuk mengembangkan kematangannya, biarkan saja sambil mengawasi, fasilitasi bakat dan minatnya. Anda tidak perlu memarahi, jika itu merupakan bagian dari kreativitas discoverynya. Sedangkan saat anginnya terlalu kencang, Anda cukup mengarahkan semangatnya yang berlebihan. Jika terjadi pemberontakan, sekali-sekali tahan dengan kelembutan dan kasih saying. Pada titik ini, apa yang diperlukan anak di usia golden age-nya adalah bagaimana ia mampu belajar untuk kemandirian. Inilah yang dicoba kembangkan orangtua zaman dulu dengan prinsip mulur mungkret (tarik-ulur)nya. Seperti nasehat orangtua saat anaknya pertama kali belajar mendidik anak “Ketika ia berperilaku baik, Kamu boleh memberikan hadiah dari apa yang diinginkannya sebagai apresiasi atas perilakunya. Namun, ketika ia salah, jangan sungkan untuk menegurnya atau bahkan memarahinya jika perbuatannya sudah kelewatan. Doronglah ia untuk mau meminta maaf kepada siapapun, termasuk kamu, ketika ia melakukan kesalahan, dan ajarkanlah untuk mau berjanji menjadi anak yang baik dan tidak mengulangi perbuatannya yang salah. Jangan lupa bekali ia dengan nilai moral spiritual dan sosial agar ia mampu menghargai dirinya, orang lain, dan Tuhannya”.

Address:

HIKARI MONTESSORI
Jl.Bintaro Utama 9 HB 19 No.15-19
Sektor 9 Bintaro Jaya, Jakarta Selatan
T. (021) 56134599
HP. (021) 0811 88 90 99
www.hikarimontessori.com

  © Blogger templates 'Sunshine' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP