About US

Hikari Montessori established in 2005 is a Montessori Preschool &

kindergarten and also supplier of quality Montessori and educational

materials. We provide quality education to children aged 1 to 6 years

of age. Our Montessori Curriculum method divide into some part.

From concrete to abstract. From the simple way to complex.


Hikari Montessori is supported by professional and experts teachers.

Hikari Montessori school came to develop creativity and potential,

also build your children character.

Programs

Hikari Montessori has a program that offers

+ Toddler (1-2 years),

+ Nursery (2 - 3 years),

+ Pre – Kiddy ( 3 years ),

+ Kindergarten A ( 4 - 5 years ),

+ Kindergarten B ( 5 – 6 years )

Hikari Montessori gives the children freedom to study actively with Montessori

method.


Curriculum

Hikari Montessori Curriculum :

• Practical Life

• Mathematics

• Sensorial Training

• Language

• Culture

• Art & Music

• Physical Exercise

• Religion (Moslem&Christian)

Tampilkan postingan dengan label perkembangan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkembangan anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

TIPS MENGAJARKAN ANAK BERPUASA

TIPS MENGAJARKAN PUASA
Abdul Rahman Shaleh

Puasa biasa menjadi momok bagi anak jika yang diajarkan itu hanya menahan lapar dan haus dari imsyak hingga maghrib. Oleh karena itu mengajar anak berpuasa tidaklah mudah, tetapi perlu bertahap dan menggunakan trik tersendiri. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan :

  • Sesuaikan dengan usia. Jika anak di bawah usia 7 tahun, cukup dengan mengajarkan berpuasa maksimal setengah hari. misalnya dimulai dari berbuka pada jam 10 lalu meningkat menjadi jam 12, dan seterusnya menjadi jam 2 siang hingga terbiasa sehari penuh.
  • Perlu penyesuaian asupan dan jam tidur agar ia tidak mengalami masalah dan kesulitan dalam melaksanakan puasa.
  • Beri hadiah dan pujian seperlunya dan bertahap. Misalnya jika setengah hari beri hadiah, lalu tingkatkan menjadi sehari penuh, kemudian, sejumlah hari tertentu, dan terus menjadi sebulan. Jika sudah terbiasa, hadiah tidak diperlukan lagi tetapi disertai penjelasan tentang makna puasa dan bahwa berpuasa tidak boleh terkait dengan hadiah.
  • Biasakan untuk membawanya tarawih ke masjid agar ia juga memahami bahwa ada banyak orang berpuasa, termasuk anak-anak.
  • Meski ia tidak berpuasa, ajak serta ia sahur dan berbuka bersama dengan Anda. Dengan ini ia akan memahami ada ritual tertentu yang hanya ada di bulan ramadhan
  • Sesekali ajak ia beramal amaliah ramadhan dan bertadarus bersama dengan Anda.
  • Ajarkan juga tentang bersedekah dan berzakat. Ajak ia saat Anda membawayarkan zakat dan sedekah. Bila perlu biarkan ia yang memasukkan sedekah Anda ke dalam kotak amal atau memberikannya kepada Panitia Pengelola Sadaqah dan Zakat.
  • Jika ia berbohong saat ditanya apakah masih puasa, jangan marah. Ia tidak ingin mengecewakan Anda, sehingga beri apresiasi dan nasehat. Motivasi dengan kompetisi berpuasa.
  • Beri kesempatan ia untuk tetap melakukan aktivitas, tetapi jaga agar ia tidak kehilangan energi kreatifnya. Ajak ia memahami makna puasa melalui perilaku dan contoh saat Anda sedang bekerja atau belajar memahami al-Qur'an.

MAKNA PUASA BAGI ANAK

Makna Puasa Bagi Anak
Abdul Rahman Shaleh

Puasa atau Shaum secara bahasa diartikan dengan menahan atau mencegah. Secara fiqhiyah syar’iyah artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Dalam QS. Al-baqarah : 183 yang diwajibkan berpuasa adalah orang yang beriman. Perintah ini dilengkapi secara fiqhiyah dengan dipersyaratkannya akil baligh. Dengan demikian anak-anak yang belum berakil baligh berlum diwajibkan berpuasa.

Namun demikian dalam tahap pembelajaran membiasakan dan melatihkan anak untuk berpuasa secara bertahap merupakan satu hal yang penting. Sebab ada beberapa makna positif bagi perkembangan psiko-sosialnya. Secara sosial, anak dibiasakan untuk memahami orang lain yang sedang berpuasa dan bagaimana berempati kepada orang yang tidak memiliki atau sedang dalam kesulitan. Anak juga dibiasakan berhubungan dan bersosialisasi dengan orang lain di luar lingkungan keluarganya saat ia bertarawih dan bertadarus. Melalui pesantren kilat anak, anak dibiasakan untuk mengembangkan spirit sosial (baca : energi sosial) melalui gerak dan tindakan yang sama dan seirama. Toleransi terhadap orang yang berpuasa dan tidak berpuasa juga berkembang saat ditunjukkan bahwa ada orang-orang yang memang tidak diwajibkan berpuasa (misalnya karena sakit atau hal lainnya yang menjadi mudharat syar’i).

Secara psikologis, anak diajarkan untuk mengatur emosinya dengan mengendalikan diri saat ia sedang menahan lapar dan haus. Anak juga biasanya menjadi kreatif dikarenakan ia belajar mengalihkan perhatiannya dari rasa lapar. Namun demikian, perlu kehati-hatian dalam mengajarkan anak berpuasa. Asupan gizi dan pola tidur perlu dijaga agar problem gizi dan keseimbangan fisiknya tetap terjaga saat ia melaksanakan ibadah puasa.

Selasa, 28 Juni 2011

AGAR ANAK TIDAK EGOIS

AGAR ANAK TIDAK EGOIS
Abdul Rahman Shaleh

Anak-anak itu memang unik dengan polah tingkah yang dimilikinya. Pada umumnya anak dipengaruhi oleh sifat egosentrisme yang memang berkembang di usia mereka dan mulai berkembang saat ia mulai memiliki kesadaran akan keberadaan dirinya. Egosentrisme ini berkembang karena anak belum memiliki kemampuan ia belum mampu menempatkan dirinya dalam sudut pandang orang lain dan dalam situasi. Mereka hanya berpikir “saat ini dan di sini”. Akibatnya seringkali anak-anak memperlihatkan perilaku tidak suka disangkal, dibatasi, atau dilarang. Perilaku ini tak jarang mengakibatkan kejengkelan dan perlakuan keras orang tua terhadap anak. Semakin keras perilaku orang tua terhadap anak kemungkinan besar yang terjadi adalah serangan balasan terhadap orang tua dalam bentuk hambatan, pemberontakan, kebohongan, kemarahan dan kekesalan.

Sebaliknya, ketidaksenangan orangtua ditanggapi anak dengan kemarahan. Acapkali anak-anak tersinggung dan marah hanya disebabkan alasan-alasan sepele, karena mereka memang tidak mempunyai pribadi yang kuat. Oleh karena itu, perlu sikap yang bijak dalam mendidik anak agar proses menuju kemandiriannya tidak dicampuri oleh sifat egoisme yang salah kaprah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mendorong dan membiasakan perilaku yang positif, antara lain :

1.beri kenyamanan untuk tumbuh dengan menunjukkan sikap menerimanya dengan seluruh kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya agar ia juga dapat mengembangkan self acceptance, sembari menjelaskan dengan sabar dan lembut hal-hal penting menuju arah yang positif, termasuk bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi.

2.Beri kepercayaan pada anak atas potensinya melalui pengakuan yang tulus dan hangat (misalanya melalui pelukan) agar optimisme dan keyakinannya tumbuh.

3.Gunakan bahasa dan tutur kata yang halus. Teriakan dan kata-kata yang tidak tepat pada tempatnya secara tidak sadar dapat menjadikan anak tidak matang dalam proses perkembangannya. Pelan-pelan katakana padanya bahwa menangis, teriakan, dan hentakan kakinya tidak diperlukan bila ia menginginkan sesuatu yang baik dan mungkin untuk dipenuhi.
4.Beri tantangan tugas tertentu yang dapat memaju tanggung jawabnya terhadap kehidupannya.

Senin, 20 Juni 2011

Memanjakan Anak

Memanjakan Anak
Abdul Rahman Shaleh

Memang merupakan hal yang wajar ketika kita menyatakan bahwa kita sangat menyayangi akan buah hati kita. Ketika seorang ibu mengandung anaknya, biasanya memang ia akan merasakan adanya ikatan batin yang kuat antara dirinya dan anaknya. Dalam melayani anak, orangtua biasanya memainkan peranan pelayanan. Bahkan kebanyakan orangtua bersedia melayani anak-anak mereka tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Mungkin, itu adalah tugas orangtua atas dasar bahwa mereka dianggap tidak mampu melakukan sendiri, setidaknya sampai mereka tumbuh dan berkembang menjadi mampu, kompeten, dan individu-individu mandiri. Namun sayangnya banyak orangtua umumnya melakukan terlalu banyak untuk anak. Dalam melakukannya, kita berisiko merampas mereka kesempatan belajar yang penting untuk perkembangan dan pertumbuhan yang sehat. Dengan kata lain, orang tua menomorsatukan anak dalam hal pelayanan. Segala kebutuhan anak selalu dipenuhi bagaimana pun caranya. Kehadiran anak dijadikan mitos sebagai pembawa rezeki dan kebahagiaan dalam keluarga. Orangtua menaruh harapan-harapan kepada anak-anaknya agar mereka memberikan kebanggaan dan kebahagiaan. Orangtua yang terlalu berharap berlebihan kepada anaknya sesungguhnya justru membebani hidup anak itu sendiri. Sebab anak akan merasa terpasung dalam menentukan sikap sesuai dengan keinginannya yang sesuai dengan perkembangnnya.

Oleh karena itu, jika Anda terlalu memanjakan anak Anda secara berlebihan, berhati-hatilah, karena pada akhirnya anak Anda akan selalu menjadi pribadi yang manja dan berani seenaknya tanpa menaruh rasa hormat terhadap Anda. Seorang anak yang biasa dimanjakan secara berlebihan oleh orangtuanya biasanya akan menjadi anak yang nakal, karena orangtua yang terlalu memanjakan anaknya akan sering sekali memaklumi kesalahan anaknya yang pada akhirnya akan berakhir pada kelakuan sang anak yang semakin buruk, karena anak tersebut akan selalu merasa bahwa orangtuanya tidak akan pernah memarahinya sebesar apapun kesalahan yang ia lakukan. Mereka tahu bahwa orangtuanya tidak tega untuk mengatakan 'tidak'. Akibatnya, anak terbiasa tanpa kesulitan atau hambatan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Hal itu membuat pribadi mereka menjadi rapuh dan tidak tahan uji. Walaupun sebenarnya orang tua tahu bahwa hidup itu penuh ujian dan masalah tapi tetap saja memanjakan anak-anaknya secara berlebihan.

Ketika Anda tidak pernah menunjukkan kewibawaan sebagai orangtua dan membiarkan anak Anda berperilaku semaunya tanpa dididik dan ditegur ketika ia melakukan kesalahan, anak Anda tidak akan ragu untuk berperilaku seenaknya didepan Anda dan juga menjadi pribadi yang angkuh serta tidak tahu menghargai orang lain karena telah dibiasakan hidup bebas tanpa pernah mengetahui adanya didikan dan cara berperilaku serta bertata krama yang baik. Anak Anda akan menjadi pribadi yang “caper” atau cari perhatian dengan cara-cara yang tidak wajar karena biasa dimanjakan dengan berbagai hal tanpa pernah dididik secara benar. Padahal keterampilan dalam menghadapi masalah dan ujian itulah yang sebenarnya perlu ditanamkan kepada anak sejak mereka masih kecil. Agar kelak mereka mampu menghadapi masalah dan ujian yang lebih besar lagi.
Oleh karenanya, orangtua perlu menyadari bahwa kasih saying yang diberikan mestilah dilakukan dengan cara yang tepat. Mendidik anak seperti bermain layang-layang. Saat angin tidak berhembus, Anda mesti menariknya agar ia melayang-layang. Sebaliknya saat angin sedang kencang Anda mengulurnya dan membiarkannya dimainkan angina. Sedang saat anginnya terasa cukup, mainkanlah, ia agar layag-layang bergerak indah di angkasa. Begitu juga mendidik anak, saat ia kekurangan motivasi, dorong dan bila perlu lecut semangatnya agar tergerak. Yakinkan bahwa ia memiliki potensi yang luar biasa. Ketika semangatnya dirasa cukup untuk mengembangkan kematangannya, biarkan saja sambil mengawasi, fasilitasi bakat dan minatnya. Anda tidak perlu memarahi, jika itu merupakan bagian dari kreativitas discoverynya. Sedangkan saat anginnya terlalu kencang, Anda cukup mengarahkan semangatnya yang berlebihan. Jika terjadi pemberontakan, sekali-sekali tahan dengan kelembutan dan kasih saying. Pada titik ini, apa yang diperlukan anak di usia golden age-nya adalah bagaimana ia mampu belajar untuk kemandirian. Inilah yang dicoba kembangkan orangtua zaman dulu dengan prinsip mulur mungkret (tarik-ulur)nya. Seperti nasehat orangtua saat anaknya pertama kali belajar mendidik anak “Ketika ia berperilaku baik, Kamu boleh memberikan hadiah dari apa yang diinginkannya sebagai apresiasi atas perilakunya. Namun, ketika ia salah, jangan sungkan untuk menegurnya atau bahkan memarahinya jika perbuatannya sudah kelewatan. Doronglah ia untuk mau meminta maaf kepada siapapun, termasuk kamu, ketika ia melakukan kesalahan, dan ajarkanlah untuk mau berjanji menjadi anak yang baik dan tidak mengulangi perbuatannya yang salah. Jangan lupa bekali ia dengan nilai moral spiritual dan sosial agar ia mampu menghargai dirinya, orang lain, dan Tuhannya”.

Address:

HIKARI MONTESSORI
Jl.Bintaro Utama 9 HB 19 No.15-19
Sektor 9 Bintaro Jaya, Jakarta Selatan
T. (021) 56134599
HP. (021) 0811 88 90 99
www.hikarimontessori.com

  © Blogger templates 'Sunshine' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP